Minggu, 02 Desember 2012

Kecemburuan Para Kader


Kecemburuan Para Kader

Oleh : Cahyadi Takariawan

Ini termasuk pesan penting yang ingin aku sampaikan. Hendaklah berhati-hati dalam mengelola kecemburuan di lingkungan kader dakwah. Maaf seribu bahkan sejuta maaf. Ini hal sensitif. Namun akan semakin sensitif jika tidak disampaikan.

Cemburu adalah tanda cinta. Tanpa cinta, tidak akan muncul kecemburuan.

Cobalah kita ingat kisah pembagian harta rampasan perang Hunain. Seusai perang Hunain, Rasulullah saw membagi-bagi harta rampasan kepada yang berhak secara adil dan bijaksana. Abu Sufyan bin Harb, tokoh penentang Islam sejak awal dakwah di Makah itu, telah mendapatkan bagian seratus ekor unta dan empat puluh uqiyah perak. Demikian pula Yazid dan Mu’awiyah, dua orang anak Abu Sofyan, mendapat bagian yang sama dengan bapaknya. Kepada tokoh-tokoh Quraisy yang lain beliau memberikan bagian seratus ekor unta. Adapula yang mendapatkan bagian lebih sedikit dari itu, hingga seluruh harta rampasan habis dibagikan.

Melihat pembagian itu, para sahabat Anshar memandang lain. Mereka seakan-akan merasa terlupakan oleh Rasulullah saw, ya, tak sedikitpun dari sekian harta rampasan perang itu yang diberikan kepada mereka. Rasulullah justru memberikan bagian yang banyak kepada orang-orang yang dulunya amat gigih memerangi dakwah Islam. Padahal kaum Anshar lah yang telah memberikan loyalitas penuh dalam berbagai perjuangan kaum muslimin. Sejak menampung kaum Muhajirin dengan penuh keikhlasan, sampai kepada keterlibatan dalam perang demi membela agama Allah swt.

Muncullah gejolak di kalangan sahabat Anshar, hingga seorang di antara mereka berkata, ”Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepada RasulNya, karena beliau telah memberi kepada orang Quraisy dan tak memberi kepada kami, padahal pedang-pedang kami yang menitikkan darah-darah mereka.”

Adapula di antara mereka yang berkata, “Rasulullah sekarang telah menemukan kembali kaum kerabatnya.”

Melihat gejala yang berkembang itu, Sa’ad bin Ubadah segera melaporkan kepada Rasulullah saw, meskipun ia dapat memahami perasaan kaumnya, akan tetapi terasa tak baik dibiarkan terus berkepanjangan. Mendengar laporan tersebut Rasulullah saw bertanya, ”Bagaimana perasaan kamu sendiri ya Sa’ad ?” Sa’ad menjawab, “Ya Rasulullah, aku adalah bagian dari kaumku.”

“Kumpulkan kaum Anshar di tempat ini,” kata Rasulullah saw.

Segera Sa’ad bin Ubadah mengumpulkan segenap kaum Anshar, menghadap Rasulullah saw. Setelah semuanya berkumpul, kemudian Rasulullah bertanya kepada mereka :

“Apakah ucapan kalian yang telah sampai kepada saya ?”

Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, para ketua kami tidaklah mengatakan sesuatu pun. Hanya kami para pemuda, yang berkata, “Semoga Allah  mengampuni RasulNya. Beliau telah memberi orang Quraisy dan meninggalkan kami, padahal pedang-pedang kamilah yang telah menitikkan darah-darah mereka.”

Rasulullah bersabda, “Hai orang-orang Anshar, bukankah aku datang kepada kalian, sedang kalian dalam kesesatan, lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian dengan perantaraan aku ? Dan kalian dalam kepapaan, lalu Allah  memberi kemampuan kepada kalian karena aku ? Dan dulu kalian bermusuhan, lalu Allah  mempersatukan kalian karena aku ?”

Kaum  Anshar menjawab, “Benar, Allah dan RasulNya amat pemurah dan mengaruniai !”

“Tidakkah kalian menjawab aku wahai kaum Anshar ?” tanya Rasulullah kepada mereka.

“Dengan apa kami harus menjawab engkau ya Rasulullah padahal bagi Allah  dan RasulNya semua kemurahan dan keutamaan”, jawab kaum Anshar.

Rasulullah bertanya lagi, “Apakah yang menghalangi engkau menjawab kepada Rasulullah ?”

“Ya Rasulullah, engkau mendapati kami tengah dalam kegelapan, lalu Allah  mengeluarkan kami kepada cahaya lantaran engkau. Dan engkau mendapati kami tengah di tepi jurang api neraka lalu Allah menyelamatkan kami lantaran engkau. Dan engkau mendapati kami dalam kesesatan, lalu Allah menunjuki kami lantaran engkau. Maka dari itu kami telah ridha Allah  sebagar Tuhan kami, dan Islam sebagai dien kami, dan kepada Muhammad sebagai nabi. Maka berbuatlah sekehendakmu, karena engkau adalah kehalalan, ya Rasulullah “, jawab mereka.

Namun seakan-akan Rasulullah belum mendapatkan jawaban yang tuntas, ketika bersabda kepada mereka :

“Demi Allah, sekiranya mau tentu kalian berkata, pasti kalian dibenarkan : Bukankah engkau (ya Rasulullah) datang kepada kami dalam keadaan  didustakan, lalu kami (Anshar) yang membenarkan engkau. Bukankah engkau dihinakan, lalu kami menolong engkau. Bukankah engkau datang sebagai orang usiran, lalu kami melindungi engkau, dan engkau dalam kedaan miskin, lalu kami memberi kemampuan kepada engkau. Engkau datang sebagai orang yang takut, lalu kami mengamankan engkau. Apakah kalian dapati pada diri kalian, sekelumit dari hal dunia; dimana aku akan menjinakan satu golongan dengan sekelumit keduniaan itu agar mereka masuk Islam, sedang aku menyerahkan kalian kepada keislaman kalian yang teguh ?”

“Benar ya Rasulullah, kami sungguh telah ridha”, jawab kaum Anshar.

“Hai kaum Anshar ! Tidaklah kalian rela, bahwa orang-orang pergi dengan membawa kambing dan unta, sedangkan kalian kembali dengan membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian ? Demi Dzat yang Muhammad di tangan-Nya, jika bukan karena hijrah, tentu aku menjadi golongan Anshar ! Jika sekiranya orang-orang menempuh lembah dan tepi gunung, sedang orang Anshar menempuh lembah atau tepi gunung yang lain, niscaya aku menempuh jalan yag dilalui orang-orang Anshar !’ lanjut Rasulullah.

Tanpa terasa sebagaian besar kaum Anshar yang tengah berhadapan dengan Rasulullah itu mencucurkan air mata. Tangis yang amat mendalam disebabkan karena kecintaan mereka terhadap Rasulullah, hingga janggut-janggut mereka basah oleh air mata. Akhirnya, mereka serentak menjawab :

“Kami telah ridha kepada Rasulullah sebagai pembagian dan pemberian !”

Kita menyaksikan suatu dialog dari kedalaman hati, dialog dari orang-orang yang saling mencintai dan berkasih sayang karena Allah semata. Apakah kiranya yang akan terjadi, jika gejolak perasaan  kaum Anshar terhadap Rasulullah dibiarkan terpendam, dan menjadi ganjalan di kalangan mereka ? Rasulullah saw sadar betul bahaya dalam dakwah yang bisa muncul, sehingga masalah tersebut dituntaskan secara langsung.

Kita menyaksikan sebuah drama kemanusiaan yang terjadi di zaman keemasan Islam. Sangat mengharu biru perasaan kita, namun juga penuh hikmah yang berkilauan bak mutiara. Pelajaran pertama adalah ”kemungkinan” terjadinya perasaan kecemburuan di kalangan kader dakwah, bahkan di zaman dan generasi terbaik umat Islam. Kendati para sahabat adalah kader pilihan yang dibina oleh murabbi pilihan Allah, yaitu Nabi saw, namun proses tarbiyah sama sekali tidak bermakna menghilangkan sisi-sisi kemanusiaan.

Tarbiyah tidak menghasilkan kualitas malaikat, yang tidak punya ”pilihan perasaan dan kecenderungan”. Kader dakwah dibina, berapa lamapun mereka dibina, oleh murabbi sehebat apapun, tetap menjadi kader yang memelihara perasaan dan kecenderungan kemanusiaan. Maka, wajar ketika kita saksikan munculnya sisi manusiawi di lingkungan sahabat Nabi saw.

Pelajaran kedua adalah keinginan semua pihak untuk merawat kebaikan.  Sikap Sa’ad bin Ubadah yang melaporkan kecemburuan sebagian sahabat kepada Rasulullah saw adalah tindakan yang didasarkan keinginan mulia untuk merawat kebaikan. Bukan tindakan mencari muka di hadapan Nabi saw, bukan tindakan untuk menghancurkan nama baik sahabat lainnya dengan melaporkan kekurangan dan kelemahan sahabat. Bukan untuk mematikan karakter sahabat lainnya. Namun justru untuk merawat kebaikan itu sendiri di lingkungan kader dakwah.

Pelajaran ketiga, sikap bijak qiyadah saat menerima laporan. Rasulullah tidak menerima begitu saja laporan Sa’ad. Beliau melakukan konfirmasi “Kumpulkan kaum Anshar di tempat ini,” kata Rasulullah saw. Setelah mereka berkumpul, Nabi saw bertanya, “Apakah ucapan kalian yang telah sampai kepada saya ?” Tampak beliau saw ingin mendengar sendiri, mendengar langsung aspirasi, uneg-uneg, ganjalan perasaan para sahabat. Beliau tidak ingin melukai hati para sahabat.

Pelajaran keempat, Nabi saw memberikan penjelasan secara gamblang atas kebijakan yang beliau ambil dalam pembagian ghanimah. Tindakan ini menunjukkan, Nabi saw proaktif memberikan bayan, penjelasan yang diperlukan terkait kebijakan yang sempat meresahklan sebagian kader. Beliau tidak mendiamkan atau membiarkan saja adanya omongan, perbincangan , diskusi kecil yang tidak konstruktif di kalangan kader dakwah.

Pelajaran kelima, sikap bijak para sahabat setelah mendapat penjelasan. Mereka yang menyimpan rasa cemburu dan mempertanyakan kebijakan Nabi saw, bisa menerima dengan baik penjelasan Nabi saw. Mereka tidak berdebat, bertikai, menuduh qiyadah secara membabi buta. Mereka bertanya, dan setelah mendapat penjelasan yang gamblang, mereka mudah menerima dan tidak mempersoalkan lagi. Dengan janggut yang basah oleh air mata, mereka serentak menjawab : “Kami telah ridha kepada Rasulullah sebagai pembagian dan pemberian !”

Sikap yang ditunjukkan kaum Anshar dalam pembagian ghanimah itu sepertinya lebih disebabkan karena perasaan takut kehilangan perhatian Rasulullah, bukan sekedar karena tak mendapat bagian. Namun akhirnya mereka sadar dan bisa menerima kebijakan Rasulullah itu setelah mendapatkan penjelasan langsung dari Nabi saw.

Alangkah indahnya kalau dalam organisasi dakwah, kita semua sanggup berbicara, berdiskusi, berkomunikasi dengan bahasa hati. Dengan bahasa cinta. Dengan membawa hati dan jiwa yang bersih. Tidak dengan tuduhan, caci maki, sumpah serapah, yang sangat jauh dari etika Islam.

Alangkah indahnya kalau dalam gerakan dakwah, semua pihak bisa menjaga adab sesuai posisi masing-masing. Ada adab qiyadah, ada adab jundiyah. Bukankah kita semua berkumpul dalam dakwah karena ikatan kecintaan, ikatan ukhuwah, ikatan kebersamaan ? Bukan ikatan kepentingan , bukan ikatan kedengkian, bukan ikatan politik, bukan ikatan materi. Lalu mengapa ada yang harus terluka ?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Ini termasuk pesan penting yang ingin aku sampaikan. Hendaklah berhati-hati dalam mengelola kecemburuan di li
ngkungan kader dakwah. Maaf seribu bahkan sejuta maaf. Ini hal sensitif. Namun akan semakin sensitif jika tidak disampaikan.

Cemburu adalah tanda cinta. Tanpa cinta, tidak akan muncul kecemburuan.

Cobalah kita ingat kisah pembagian harta rampasan perang Hunain. Seusai perang Hunain, Rasulullah saw membagi-bagi harta rampasan kepada yang berhak secara adil dan bijaksana. Abu Sufyan bin Harb, tokoh penentang Islam sejak awal dakwah di Makah itu, telah mendapatkan bagian seratus ekor unta dan empat puluh uqiyah perak. Demikian pula Yazid dan Mu’awiyah, dua orang anak Abu Sofyan, mendapat bagian yang sama dengan bapaknya. Kepada tokoh-tokoh Quraisy yang lain beliau memberikan bagian seratus ekor unta. Adapula yang mendapatkan bagian lebih sedikit dari itu, hingga seluruh harta rampasan habis dibagikan.

Melihat pembagian itu, para sahabat Anshar memandang lain. Mereka seakan-akan merasa terlupakan oleh Rasulullah saw, ya, tak sedikitpun dari sekian harta rampasan perang itu yang diberikan kepada mereka. Rasulullah justru memberikan bagian yang banyak kepada orang-orang yang dulunya amat gigih memerangi dakwah Islam. Padahal kaum Anshar lah yang telah memberikan loyalitas penuh dalam berbagai perjuangan kaum muslimin. Sejak menampung kaum Muhajirin dengan penuh keikhlasan, sampai kepada keterlibatan dalam perang demi membela agama Allah swt.

Muncullah gejolak di kalangan sahabat Anshar, hingga seorang di antara mereka berkata, ”Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepada RasulNya, karena beliau telah memberi kepada orang Quraisy dan tak memberi kepada kami, padahal pedang-pedang kami yang menitikkan darah-darah mereka.”

Adapula di antara mereka yang berkata, “Rasulullah sekarang telah menemukan kembali kaum kerabatnya.”

Melihat gejala yang berkembang itu, Sa’ad bin Ubadah segera melaporkan kepada Rasulullah saw, meskipun ia dapat memahami perasaan kaumnya, akan tetapi terasa tak baik dibiarkan terus berkepanjangan. Mendengar laporan tersebut Rasulullah saw bertanya, ”Bagaimana perasaan kamu sendiri ya Sa’ad ?” Sa’ad menjawab, “Ya Rasulullah, aku adalah bagian dari kaumku.”

“Kumpulkan kaum Anshar di tempat ini,” kata Rasulullah saw.

Segera Sa’ad bin Ubadah mengumpulkan segenap kaum Anshar, menghadap Rasulullah saw. Setelah semuanya berkumpul, kemudian Rasulullah bertanya kepada mereka :

“Apakah ucapan kalian yang telah sampai kepada saya ?”

Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, para ketua kami tidaklah mengatakan sesuatu pun. Hanya kami para pemuda, yang berkata, “Semoga Allah mengampuni RasulNya. Beliau telah memberi orang Quraisy dan meninggalkan kami, padahal pedang-pedang kamilah yang telah menitikkan darah-darah mereka.”

Rasulullah bersabda, “Hai orang-orang Anshar, bukankah aku datang kepada kalian, sedang kalian dalam kesesatan, lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian dengan perantaraan aku ? Dan kalian dalam kepapaan, lalu Allah memberi kemampuan kepada kalian karena aku ? Dan dulu kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan kalian karena aku ?”

Kaum Anshar menjawab, “Benar, Allah dan RasulNya amat pemurah dan mengaruniai !”

“Tidakkah kalian menjawab aku wahai kaum Anshar ?” tanya Rasulullah kepada mereka.

“Dengan apa kami harus menjawab engkau ya Rasulullah padahal bagi Allah dan RasulNya semua kemurahan dan keutamaan”, jawab kaum Anshar.

Rasulullah bertanya lagi, “Apakah yang menghalangi engkau menjawab kepada Rasulullah ?”

“Ya Rasulullah, engkau mendapati kami tengah dalam kegelapan, lalu Allah mengeluarkan kami kepada cahaya lantaran engkau. Dan engkau mendapati kami tengah di tepi jurang api neraka lalu Allah menyelamatkan kami lantaran engkau. Dan engkau mendapati kami dalam kesesatan, lalu Allah menunjuki kami lantaran engkau. Maka dari itu kami telah ridha Allah sebagar Tuhan kami, dan Islam sebagai dien kami, dan kepada Muhammad sebagai nabi. Maka berbuatlah sekehendakmu, karena engkau adalah kehalalan, ya Rasulullah “, jawab mereka.

Namun seakan-akan Rasulullah belum mendapatkan jawaban yang tuntas, ketika bersabda kepada mereka :

“Demi Allah, sekiranya mau tentu kalian berkata, pasti kalian dibenarkan : Bukankah engkau (ya Rasulullah) datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami (Anshar) yang membenarkan engkau. Bukankah engkau dihinakan, lalu kami menolong engkau. Bukankah engkau datang sebagai orang usiran, lalu kami melindungi engkau, dan engkau dalam kedaan miskin, lalu kami memberi kemampuan kepada engkau. Engkau datang sebagai orang yang takut, lalu kami mengamankan engkau. Apakah kalian dapati pada diri kalian, sekelumit dari hal dunia; dimana aku akan menjinakan satu golongan dengan sekelumit keduniaan itu agar mereka masuk Islam, sedang aku menyerahkan kalian kepada keislaman kalian yang teguh ?”

“Benar ya Rasulullah, kami sungguh telah ridha”, jawab kaum Anshar.

“Hai kaum Anshar ! Tidaklah kalian rela, bahwa orang-orang pergi dengan membawa kambing dan unta, sedangkan kalian kembali dengan membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian ? Demi Dzat yang Muhammad di tangan-Nya, jika bukan karena hijrah, tentu aku menjadi golongan Anshar ! Jika sekiranya orang-orang menempuh lembah dan tepi gunung, sedang orang Anshar menempuh lembah atau tepi gunung yang lain, niscaya aku menempuh jalan yag dilalui orang-orang Anshar !’ lanjut Rasulullah.

Tanpa terasa sebagaian besar kaum Anshar yang tengah berhadapan dengan Rasulullah itu mencucurkan air mata. Tangis yang amat mendalam disebabkan karena kecintaan mereka terhadap Rasulullah, hingga janggut-janggut mereka basah oleh air mata. Akhirnya, mereka serentak menjawab :

“Kami telah ridha kepada Rasulullah sebagai pembagian dan pemberian !”

Kita menyaksikan suatu dialog dari kedalaman hati, dialog dari orang-orang yang saling mencintai dan berkasih sayang karena Allah semata. Apakah kiranya yang akan terjadi, jika gejolak perasaan kaum Anshar terhadap Rasulullah dibiarkan terpendam, dan menjadi ganjalan di kalangan mereka ? Rasulullah saw sadar betul bahaya dalam dakwah yang bisa muncul, sehingga masalah tersebut dituntaskan secara langsung.

Kita menyaksikan sebuah drama kemanusiaan yang terjadi di zaman keemasan Islam. Sangat mengharu biru perasaan kita, namun juga penuh hikmah yang berkilauan bak mutiara. Pelajaran pertama adalah ”kemungkinan” terjadinya perasaan kecemburuan di kalangan kader dakwah, bahkan di zaman dan generasi terbaik umat Islam. Kendati para sahabat adalah kader pilihan yang dibina oleh murabbi pilihan Allah, yaitu Nabi saw, namun proses tarbiyah sama sekali tidak bermakna menghilangkan sisi-sisi kemanusiaan.

Tarbiyah tidak menghasilkan kualitas malaikat, yang tidak punya ”pilihan perasaan dan kecenderungan”. Kader dakwah dibina, berapa lamapun mereka dibina, oleh murabbi sehebat apapun, tetap menjadi kader yang memelihara perasaan dan kecenderungan kemanusiaan. Maka, wajar ketika kita saksikan munculnya sisi manusiawi di lingkungan sahabat Nabi saw.

Pelajaran kedua adalah keinginan semua pihak untuk merawat kebaikan. Sikap Sa’ad bin Ubadah yang melaporkan kecemburuan sebagian sahabat kepada Rasulullah saw adalah tindakan yang didasarkan keinginan mulia untuk merawat kebaikan. Bukan tindakan mencari muka di hadapan Nabi saw, bukan tindakan untuk menghancurkan nama baik sahabat lainnya dengan melaporkan kekurangan dan kelemahan sahabat. Bukan untuk mematikan karakter sahabat lainnya. Namun justru untuk merawat kebaikan itu sendiri di lingkungan kader dakwah.

Pelajaran ketiga, sikap bijak qiyadah saat menerima laporan. Rasulullah tidak menerima begitu saja laporan Sa’ad. Beliau melakukan konfirmasi “Kumpulkan kaum Anshar di tempat ini,” kata Rasulullah saw. Setelah mereka berkumpul, Nabi saw bertanya, “Apakah ucapan kalian yang telah sampai kepada saya ?” Tampak beliau saw ingin mendengar sendiri, mendengar langsung aspirasi, uneg-uneg, ganjalan perasaan para sahabat. Beliau tidak ingin melukai hati para sahabat.

Pelajaran keempat, Nabi saw memberikan penjelasan secara gamblang atas kebijakan yang beliau ambil dalam pembagian ghanimah. Tindakan ini menunjukkan, Nabi saw proaktif memberikan bayan, penjelasan yang diperlukan terkait kebijakan yang sempat meresahklan sebagian kader. Beliau tidak mendiamkan atau membiarkan saja adanya omongan, perbincangan , diskusi kecil yang tidak konstruktif di kalangan kader dakwah.

Pelajaran kelima, sikap bijak para sahabat setelah mendapat penjelasan. Mereka yang menyimpan rasa cemburu dan mempertanyakan kebijakan Nabi saw, bisa menerima dengan baik penjelasan Nabi saw. Mereka tidak berdebat, bertikai, menuduh qiyadah secara membabi buta. Mereka bertanya, dan setelah mendapat penjelasan yang gamblang, mereka mudah menerima dan tidak mempersoalkan lagi. Dengan janggut yang basah oleh air mata, mereka serentak menjawab : “Kami telah ridha kepada Rasulullah sebagai pembagian dan pemberian !”

Sikap yang ditunjukkan kaum Anshar dalam pembagian ghanimah itu sepertinya lebih disebabkan karena perasaan takut kehilangan perhatian Rasulullah, bukan sekedar karena tak mendapat bagian. Namun akhirnya mereka sadar dan bisa menerima kebijakan Rasulullah itu setelah mendapatkan penjelasan langsung dari Nabi saw.

Alangkah indahnya kalau dalam organisasi dakwah, kita semua sanggup berbicara, berdiskusi, berkomunikasi dengan bahasa hati. Dengan bahasa cinta. Dengan membawa hati dan jiwa yang bersih. Tidak dengan tuduhan, caci maki, sumpah serapah, yang sangat jauh dari etika Islam.

Alangkah indahnya kalau dalam gerakan dakwah, semua pihak bisa menjaga adab sesuai posisi masing-masing. Ada adab qiyadah, ada adab jundiyah. Bukankah kita semua berkumpul dalam dakwah karena ikatan kecintaan, ikatan ukhuwah, ikatan kebersamaan ? Bukan ikatan kepentingan , bukan ikatan kedengkian, bukan ikatan politik, bukan ikatan materi. Lalu mengapa ada yang harus terluka ?

apple app store


PERHATIAN SATU SEBARAN DIPERLUKAN ..SHARE SEBERAPA BNYAK YNG BOLEH.... 
>_<

Satu versi baru al-Quran telah dikeluarkan Apple APP STORE oleh komuniti kafir Ahmadiyyah / Qadiani.

Nama app adalah"The Holy Quran, Arabic text and English translation". "Diterjemahkan oleh Maulvi Sher Ali, Ahmadiyya Muslim Community" telah jelas disebut dalam maklumat app dalam iPhone App Store.

Umat Islam perlu peka untuk tidak membeli dan memuat turun aplikasi ini!

Produk ini perlu diboikot kerana ini adalah salah / mengelirukan & bercanggah dengan ayat Al-Quran yang asal.

Sila kongsikan kepada semua orang supaya mereka tahu walaupun mereka tidak menggunakan androids atau iPhone tetapi mereka boleh memberitahu orang lain insya-Allah.

Jangan abaikan...sila share

Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah saw

*Pembetulan Ayat : 7
PERHATIAN SATU SEBARAN DIPERLUKAN ..SHARE SEBERAPA BNYAK YNG BOLEH....
>_<

Satu versi baru al-Quran telah dikeluarkan Apple APP STORE oleh komuniti kafir Ahma
diyyah / Qadiani.

Nama app adalah"The Holy Quran, Arabic text and English translation". "Diterjemahkan oleh Maulvi Sher Ali, Ahmadiyya Muslim Community" telah jelas disebut dalam maklumat app dalam iPhone App Store.

Umat Islam perlu peka untuk tidak membeli dan memuat turun aplikasi ini!

Produk ini perlu diboikot kerana ini adalah salah / mengelirukan & bercanggah dengan ayat Al-Quran yang asal.

Sila kongsikan kepada semua orang supaya mereka tahu walaupun mereka tidak menggunakan androids atau iPhone tetapi mereka boleh memberitahu orang lain insya-Allah.

Jangan abaikan...sila share

Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah saw

*Pembetulan Ayat : 7

maju Morsi


Tabayun terbuka Terhadap Pimpinan Redaksi arrahmah.com

Dengan Hormat Pimpinan Redaksi arrahman yang saya hormati. jujur saya adalah salah satu pembaca setia media online arrahman. Tapi kali ini saya hanya ingin meminta tabayun langsung ato klarifikasi tentang pemberitaan ttg Ikhwanul muslimin.

http://arrahmah.com/read/2012/11/26/25036-saat-ikhwanul-muslimin-membakari-kantor-ikhwanul-muslimin-sen
diri.html


Saya ingin mempertanyakan data dalam tulisan ini yang saya anggap sangat tidak valid.. sumbernya darimana... ???? Saya berharap berita yang disadur atau diambil mengutip berita dari media lain harus melalui proses jurnalistik yang baku dalam mengungkapkan suatu kebenaran. Baik confirm dan melihat langsung kejadiannya di lapangan atau dengan mewawancara orang2 yang terlibat langsung dalam suatu kejadian. ada beberapa hal yg hrs saya koreksi dan sangat kontradiktif dgn fakta yang ada.

1. Jika mayoritas Nasrani "kristen koptik" menolak dekrit presiden, kenapa mereka tdk menarik Wakil presiden mesir yang yang beragama kristen dan wakil presiden Partai kebebasan dan keadilan yg notabene juga dari kaum kristen...

2. Data dan fakta bahwa mursi mendukung Basshar asshad "Rezim suriah" dengan membiarkan kapal Cina dan Iran yang membawa senjata dan amunisi u/ militer rezim suriah. ini dapat sumber dari mana..????
Sudah sangat jelas mursi dan pemerintahannya sangat mendukung perlawanan rakyat mesir terhadap rezim bashar asshad baik dengan bantuan secara ekonomi, politik maupun sosial

3. Semua kalangan islamis Ikhwanul muslimin, Salafi bersatu dengan rakyat Mesir Pro Revolusi Dukung Dekrit Presiden Mursi (Jumlah 2 Juta Massa)di mesir dengan bulat mendukung Dekrit mesir kecuali Hizbut Tahrir yang tidak tau dimana rimbanya...

4. Demo kaum nasionalis, liberal dan Antek2 mubarak yg merupakan demonstran bayaran hanya berjumlah ratusan orang. sedangkan rakyat yang mesir yang mendukung dekrit presiden hampir jutaan orang..

5 sedangkan tulisan Al-Ikhwan yuharriquun maqaar Al-Ikhwan (Ikhwanul Muslimin membakari kantor Ikhwanul Muslimin) ini ditulis oleh Gharibul Ikhwan di situs jihad internasional, Asy-Syumukh. saya anggap hanya sebuah analisis kritis dari seorang pengamat bukan menjadi sebuah analisis fakta yang membabi buta.. sehingga membenarkan sesuatu yang belum tentu benar bahkan bisa berujung fitnah.


dengan itu saya harap PImRed arrahman. dapat memberitakan sesuatu dengan kaidah islam yang akhsan... sehingga tidak ada fitnah.... ini semua saya sampaikan karena niat kepedualian saya dalam menjaga ukhuwah Islamiyah sebagai sesama aktivis muslim... semoga ini menjadi ibroh untuk kita semua.

saya mohon maaf jika ada kata2 dalam tulisan ini yang kurang layak.

Jazakumullah khairan katsir...
Tabayun terbuka Terhadap Pimpinan Redaksi arrahmah.com

Dengan Hormat Pimpinan Redaksi arrahman yang saya hormati. jujur saya adalah salah satu pembaca setia me
dia online arrahman. Tapi kali ini saya hanya ingin meminta tabayun langsung ato klarifikasi tentang pemberitaan ttg Ikhwanul muslimin.

http://arrahmah.com/read/2012/11/26/25036-saat-ikhwanul-muslimin-membakari-kantor-ikhwanul-muslimin-sen

diri.html


Saya ingin mempertanyakan data dalam tulisan ini yang saya anggap sangat tidak valid.. sumbernya darimana... ???? Saya berharap berita yang disadur atau diambil mengutip berita dari media lain harus melalui proses jurnalistik yang baku dalam mengungkapkan suatu kebenaran. Baik confirm dan melihat langsung kejadiannya di lapangan atau dengan mewawancara orang2 yang terlibat langsung dalam suatu kejadian. ada beberapa hal yg hrs saya koreksi dan sangat kontradiktif dgn fakta yang ada.

1. Jika mayoritas Nasrani "kristen koptik" menolak dekrit presiden, kenapa mereka tdk menarik Wakil presiden mesir yang yang beragama kristen dan wakil presiden Partai kebebasan dan keadilan yg notabene juga dari kaum kristen...

2. Data dan fakta bahwa mursi mendukung Basshar asshad "Rezim suriah" dengan membiarkan kapal Cina dan Iran yang membawa senjata dan amunisi u/ militer rezim suriah. ini dapat sumber dari mana..????
Sudah sangat jelas mursi dan pemerintahannya sangat mendukung perlawanan rakyat mesir terhadap rezim bashar asshad baik dengan bantuan secara ekonomi, politik maupun sosial

3. Semua kalangan islamis Ikhwanul muslimin, Salafi bersatu dengan rakyat Mesir Pro Revolusi Dukung Dekrit Presiden Mursi (Jumlah 2 Juta Massa)di mesir dengan bulat mendukung Dekrit mesir kecuali Hizbut Tahrir yang tidak tau dimana rimbanya...

4. Demo kaum nasionalis, liberal dan Antek2 mubarak yg merupakan demonstran bayaran hanya berjumlah ratusan orang. sedangkan rakyat yang mesir yang mendukung dekrit presiden hampir jutaan orang..

5 sedangkan tulisan Al-Ikhwan yuharriquun maqaar Al-Ikhwan (Ikhwanul Muslimin membakari kantor Ikhwanul Muslimin) ini ditulis oleh Gharibul Ikhwan di situs jihad internasional, Asy-Syumukh. saya anggap hanya sebuah analisis kritis dari seorang pengamat bukan menjadi sebuah analisis fakta yang membabi buta.. sehingga membenarkan sesuatu yang belum tentu benar bahkan bisa berujung fitnah.


dengan itu saya harap PImRed arrahman. dapat memberitakan sesuatu dengan kaidah islam yang akhsan... sehingga tidak ada fitnah.... ini semua saya sampaikan karena niat kepedualian saya dalam menjaga ukhuwah Islamiyah sebagai sesama aktivis muslim... semoga ini menjadi ibroh untuk kita semua.

saya mohon maaf jika ada kata2 dalam tulisan ini yang kurang layak.

Jazakumullah khairan katsir...

Yang singkat itu adalah waktu, yang menipu itu adalah dunia, yang dekat itu adalah kematian, yang besar itu adalah hawa nafsu, yan berat itu adalah amanah, yg sulit itu adalah ikhlas, yg mudah itu adalah berbuat dosa, yg susah itu bersabar, yg sering lupa itu adalah bersyukur (Imam Ghozali)
Yang singkat itu adalah waktu, yang menipu itu adalah dunia, yang dekat itu adalah kematian, yang besar itu adalah hawa nafsu, yan berat itu adalah amanah, yg sulit itu adalah ikhlas, yg mudah itu adalah berbuat dosa, yg susah itu bersabar, yg sering lupa itu adalah bersyukur (Imam Ghozali)

"Diktatorisme Baru"


"Diktatorisme Baru"

   Wahai Dr. Mursi kamu diktator pertama yang melarang memenjarakan jurnalis meskipun ia menghinamu dengan hinaan yang menjijikkan lalu menyebarkan penghinaan itu

    Kamu diktator pertama yang membiarkan anakmu pergi ke negara arab lain seperti anak-anak mesir lainnya sebab mencari rezeki

    Kamu diktator pertama yang membiarkan saudari kandungmu meninggal karena menderita sakit parah di rumah sakit umum tanpa memberikan pengobatan khusus

    Kamu diktator pertama yang dijelek-jelekkan, dicaci maki dan dihina-hina oleh koran dan dan televisi yang dibiayai oleh kroni mubarak tapi kamu tidak melarang dan mencegahnya

    Kamu diktator pertama yang tinggal di rumah kontrakan dan menolak tinggal di istana negara

    Kamu diktator pertama yang mau bertemu, mendengar dan berdialog dengan penentangmu

    Kamu diktator pertama yang melarang isterimu tampil di tv, di koran bahkan dalam berita sederhana di sebuah siaran berita

    Kamu diktator pertama yang melaporkan jumlah harta sebelum menerima jabatan presiden

    Kamu diktator pertama yang menarik kembali keputusanmu memindahkan profesi jaksa agung tanpa rasa malu

    Kamu diktator pertama yang mengusahakn UU yang mengurangi wewenangmu dan dibagi kepada perdana menteri dan pimpinan parlemen..

    Wahai presiden yang mulia engkau telah membuat diktatorisme baru...selamat datang wahai presiden...

    Kami berharap kamu jangan pelit berikan kami kediktatoranmu....
‎

Wahai Dr. Mursi kamu diktator pertama yang melarang memenjarakan jurnalis meskipun ia menghinamu dengan hinaan yang menjijikkan lalu me
nyebarkan penghinaan itu

Kamu diktator pertama yang membiarkan anakmu pergi ke negara arab lain seperti anak-anak mesir lainnya sebab mencari rezeki

Kamu diktator pertama yang membiarkan saudari kandungmu meninggal karena menderita sakit parah di rumah sakit umum tanpa memberikan pengobatan khusus

Kamu diktator pertama yang dijelek-jelekkan, dicaci maki dan dihina-hina oleh koran dan dan televisi yang dibiayai oleh kroni mubarak tapi kamu tidak melarang dan mencegahnya

Kamu diktator pertama yang tinggal di rumah kontrakan dan menolak tinggal di istana negara

Kamu diktator pertama yang mau bertemu, mendengar dan berdialog dengan penentangmu

Kamu diktator pertama yang melarang isterimu tampil di tv, di koran bahkan dalam berita sederhana di sebuah siaran berita

Kamu diktator pertama yang melaporkan jumlah harta sebelum menerima jabatan presiden

Kamu diktator pertama yang menarik kembali keputusanmu memindahkan profesi jaksa agung tanpa rasa malu

Kamu diktator pertama yang mengusahakn UU yang mengurangi wewenangmu dan dibagi kepada perdana menteri dan pimpinan parlemen..

Wahai presiden yang mulia engkau telah membuat diktatorisme baru...selamat datang wahai presiden...

Kami berharap kamu jangan pelit berikan kami kediktatoranmu....

Cara Kematian Tokoh Sekuler di 74 Tahun Yang Lalu


Cara Kematian Tokoh Sekuler di 74 Tahun Yang Lalu

Sesaat setelah Kemal Attaturk menggantung tigapuluh ulama dan mengawasi gerakan perlawanan dari kubu Muslim, ia katakan, “Ketahuilah, saya dapat membuat negara Turki menjadi negara demokrasi bila saya dapat hidup lima belas tahun lagi. Tetapi jika saya mati sekarang , itu akan memerlukan waktu tiga generasi.”

Begitulah Kamal Ataturk , selalu berlaku angkuh di atas tindakan kekejaman dan anti Agama , seorang yang dikenal sebagai pencetus  Sekular Turki , penghancur kekhalifahan Turki .

Tahukah anda , bagaimana siksaan Allah pada akhir masanya?

Kezoliman dan penghianatan Kamal Ataturk hancurkan umat Islam di Turki sangat begitu kejam. Sekiranya Kamal Ataturk ini lahir di zaman adanya rasul pada saat ketika wahyu masih ada, tentunya bisa jadi namanya akan diabadikan seperti Firaun, Namrud dan Abu Lahab.

Cara kematian yang Allah telah datangkan kepada mereka yang zalim itu teramat tragis sekali. Kematian merekapun teramat unik . Contohnya Namrud, mati karena sakit kepala  akibat dimasuki oleh seekor nyamuk melalui telinganya. Setiap kali ia menjerit, doktor pribadinya memerintahkan dipukul kepalanya untuk mengurangi kesakitannya. Setelah lama bergelut dengan sakratul maut, akhirnya beliau mati dalam keadaan tersiksa dan terhina. Begitu juga dengan Firaun yang mati lemas di dalam laut.

Jadi, tidaklah  heran kalau Kamal Ataturk juga menerima pembalasan yang setimpal dengan pembalasan yang diterima oleh Namrud dan Firaun.

Menurut sejarah dalam buku-buku biografinya, yang ditulis  oleh para pendukungnya, kematian Kemal dikarenakan akibat over dosis  minuman keras. Ditambah lagi dengan berbagai penyakit  seperti penyakit kelamin, malaria , sakit ginjal dan lever.

Beliau meninggal dunia pada 10 November 1938 , Kulit di tubuh badannya rusak dengan cepat dan díganggu pula oleh penyakit gatal-gatal. Doktor-doktor sudah memberi bermacam-macam salep untuk diusap pada kakinya yang sudah banyak luka-luka karena tergaruk oleh kukunya. Walaupun begitu beliau masih sangat angkuh. Di akhir-akhir hayatnya yaitu ketika menderita sakratulmaut, anehnya beliau takut sekali berada di istananya dan tubuhnya merasa panas maka ia ingin dibawa ke tengah laut dengan kapalnya. Bila penyakitnya bertambah krisis, beliau tidak dapat menahan diri daripada menjerit. Jeritan itu semakin kuat (hingga kedengaran di sekeliling istana), Beliau berteriak kesakitan dalam sakratulmautnya dengan penuh azab di tengah-tengah laut

Pada 29 September 1938 Kamal Ataturk mengalami koma selama 48 jam. Pada 9 November, beliau mengalami koma kali kedua. Dan sewaktu itulah air dalam perutnya disedot keluar. Beliau kemudiannya tidak sadarkan diri selama 36 jam dan akhirnya  meninggal dunia.

Cara kematiannya begitu menghinakan sekali. Begitu pula setelah kematiannya. Mayatnya TIDAK dimandikan, tidak dikafankan, tidak disembahyangkan dan tidak dikebumikan dengan segera seperti yang dituntut oleh ajaran Islam. Tetapi sebaliknya, mayatnya diawetkan dan diletakkan di ruang takhta di Istana Dolmabahce selama 9 hari 9 malam.

Setelah 9 hari, barulah mayatnya disembahyangkan, itupun setelah didesak oleh seorang adik perempuannya. Kemudian mayatnya telah dipindahkan ke Ankara dan dipertontonkan di hadapan Grand National Assembly Building. Pada 21 November, dipindahkan pula ke sebuah tempat sementara di Museum Etnografi di Ankara yang berdekatan  gedung parlemen

Lima belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1953, barulah mayatnya diletakkan di sebuah bukit di Ankara. Mayat Ataturk tidak pernah dikebumikan.  Tiada tanah yang layak untuk menjadi kuburnya.

Begitulah cara Allah memberikan azab untuk para penentangNya di dunia ini…Semoga para penzalim (yang masih diberikan kehidupan oleh Allah SWT) terhadap umat Islam dapat segera bertaubat dan berubah menjadi pendukung dan pembela Din Islam ini…aamiin ya Robbal Alamin.

Sesaat setelah Kemal Attaturk menggantung tigapuluh ulama dan mengawasi gerakan perlawanan dari kubu Muslim,
ia katakan, “Ketahuilah, saya dapat membuat negara Turki menjadi negara demokrasi bila saya dapat hidup lima belas tahun lagi. Tetapi jika saya mati sekarang , itu akan memerlukan waktu tiga generasi.”

Begitulah Kamal Ataturk , selalu berlaku angkuh di atas tindakan kekejaman dan anti Agama , seorang yang dikenal sebagai pencetus Sekular Turki , penghancur kekhalifahan Turki .

Tahukah anda , bagaimana siksaan Allah pada akhir masanya?

Kezoliman dan penghianatan Kamal Ataturk hancurkan umat Islam di Turki sangat begitu kejam. Sekiranya Kamal Ataturk ini lahir di zaman adanya rasul pada saat ketika wahyu masih ada, tentunya bisa jadi namanya akan diabadikan seperti Firaun, Namrud dan Abu Lahab.

Cara kematian yang Allah telah datangkan kepada mereka yang zalim itu teramat tragis sekali. Kematian merekapun teramat unik . Contohnya Namrud, mati karena sakit kepala akibat dimasuki oleh seekor nyamuk melalui telinganya. Setiap kali ia menjerit, doktor pribadinya memerintahkan dipukul kepalanya untuk mengurangi kesakitannya. Setelah lama bergelut dengan sakratul maut, akhirnya beliau mati dalam keadaan tersiksa dan terhina. Begitu juga dengan Firaun yang mati lemas di dalam laut.

Jadi, tidaklah heran kalau Kamal Ataturk juga menerima pembalasan yang setimpal dengan pembalasan yang diterima oleh Namrud dan Firaun.

Menurut sejarah dalam buku-buku biografinya, yang ditulis oleh para pendukungnya, kematian Kemal dikarenakan akibat over dosis minuman keras. Ditambah lagi dengan berbagai penyakit seperti penyakit kelamin, malaria , sakit ginjal dan lever.

Beliau meninggal dunia pada 10 November 1938 , Kulit di tubuh badannya rusak dengan cepat dan díganggu pula oleh penyakit gatal-gatal. Doktor-doktor sudah memberi bermacam-macam salep untuk diusap pada kakinya yang sudah banyak luka-luka karena tergaruk oleh kukunya. Walaupun begitu beliau masih sangat angkuh. Di akhir-akhir hayatnya yaitu ketika menderita sakratulmaut, anehnya beliau takut sekali berada di istananya dan tubuhnya merasa panas maka ia ingin dibawa ke tengah laut dengan kapalnya. Bila penyakitnya bertambah krisis, beliau tidak dapat menahan diri daripada menjerit. Jeritan itu semakin kuat (hingga kedengaran di sekeliling istana), Beliau berteriak kesakitan dalam sakratulmautnya dengan penuh azab di tengah-tengah laut

Pada 29 September 1938 Kamal Ataturk mengalami koma selama 48 jam. Pada 9 November, beliau mengalami koma kali kedua. Dan sewaktu itulah air dalam perutnya disedot keluar. Beliau kemudiannya tidak sadarkan diri selama 36 jam dan akhirnya meninggal dunia.

Cara kematiannya begitu menghinakan sekali. Begitu pula setelah kematiannya. Mayatnya TIDAK dimandikan, tidak dikafankan, tidak disembahyangkan dan tidak dikebumikan dengan segera seperti yang dituntut oleh ajaran Islam. Tetapi sebaliknya, mayatnya diawetkan dan diletakkan di ruang takhta di Istana Dolmabahce selama 9 hari 9 malam.

Setelah 9 hari, barulah mayatnya disembahyangkan, itupun setelah didesak oleh seorang adik perempuannya. Kemudian mayatnya telah dipindahkan ke Ankara dan dipertontonkan di hadapan Grand National Assembly Building. Pada 21 November, dipindahkan pula ke sebuah tempat sementara di Museum Etnografi di Ankara yang berdekatan gedung parlemen

Lima belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1953, barulah mayatnya diletakkan di sebuah bukit di Ankara. Mayat Ataturk tidak pernah dikebumikan. Tiada tanah yang layak untuk menjadi kuburnya.

Begitulah cara Allah memberikan azab untuk para penentangNya di dunia ini…Semoga para penzalim (yang masih diberikan kehidupan oleh Allah SWT) terhadap umat Islam dapat segera bertaubat dan berubah menjadi pendukung dan pembela Din Islam ini…aamiin ya Robbal Alamin.

Sabtu, 01 Desember 2012

PACARAN BIKIN HIDUP LEBIH REDUP !!





Kecintaan terhadap lawan jenis merupakan fitrah yang ada pada setiap manusia yang sempurna.Inilah hikmah diciptakannya manusia dengan jenis yang berbeda, berupa laki-laki dan wanita.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-
binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Q.S. Ali Imran: 14).

Namun kecintaan kepada lawan jenis, harus diletakkan pada tempatnya sesuai aturan syari’at. Jika tidak, maka di sinilah manusia akan hidup seperti binatang, bahkan lebih keji lagi. Cara dan tipsnya yang syar’i, bina dan tumbuhkan cinta ini dalam rumah tangga melalui gerbang nikah, bukan sebelum berumah tangga, karena ini terlarang dalam agama kita.

Pembaca yang budiman, kecintaan terhadap lawan jenis inilah yang menjadi alasan dua anak manusia terjerumus dalam perkara haram, hina dan keji dengan menjalin hubungan, memadu kasih, mengukir kisah asmara dan berjanji setia sehidup dan semati, atau lebih akrab disebut dengan istilah “pacaran” !!!

Betapa banyak harta yang terbuang karenanya, betapa banyak manusia menjadi gila karena ulahnya, betapa banyak kemaksiatan yang terjadi karena melakukannya, dan jiwapun melayang disebabkan olehnya.Namun sangat sedikit manusia yang mau mengambil pelajaran.

Lalu kenapa produk barat yang bermerek “pacaran” ini masih menjadi “virus” yang menjangkiti hampir semua kalangan, mulai dari Sekolah Dasar, SMP, SMA, sampai di bangku kuliahan. Mereka merasa malu, bila masih sendiri alias belum punya pacar.Semua ini disebabkan karena hawa nafsu yang sudah berkuasa pada diri seseorang, kurangnya perhatian orang tua, dan jauhnya mereka dari agama.

Berbagai macam dalih dan beribu merek alasan yang sering dilontarkan untuk menghalalkan produk haram ini.Yah, “alasanya mengikuti perkembangan zaman”, “cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup, agar bisa saling mengenal karakter dan sifat masing-masing sebelum menjalani bahtera kehidupan rumah tangga”.Ini adalah jerat-jerat setan. Lalu sampai di mana kalian akan saling mengenal pasangan? Apakah sampai harus melanggar batasan-batasan Allah !!? Ini adalah pintu kebinasaan yang akan menghinakan dirimu.

Dalil Haramnya Pacaran

Allah -Azza wa Jalla- Yang Maha Penyayang kepada hamba-Nya telah menutup segala celah yang bisa membinasakan hamba-Nya, di antaranya adalah zina, dan segala pengantar menuju zina. Allah –Azza wa Jalla- berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)

Allah telah melarang hamba-Nya untuk mendekati perzinaan, karena zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.dan suatu jalan yang buruk. Maka segala hal yang bisa mengantarkan kepada bentuk perzinaan telah diharamkan pula oleh Allah.Sedangkanpacaran adalah sebesar-besar perkara yang bisa mengantarkan ke pintu perzinaan !!! Data dan realita telah membuktikan; tak perlu kita sebutkan satu-persatu kisah buruk dan menjijikkan, dua insan yang dimabuk asmara.

Jika Allah dalam ayat ini mengharamkan pengantar menuju zina (diantaranya pacaran), maka tentunya Allah mengharamkannya karena hal itu akan menimbulkan mafsadah (kerusakan) di atas permukaan bumi, seperti kerusakan nasab, harga diri, rumah tangga, dunia, dan akhirat.

Para Pembaca yang budiman, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menjelaskan firman Allah di atas, kenapa Allah mengharamkan pacaran? Jawabnya, berdasarkan hadits-hadits yang ada, bahwa pacaran mengandung beberapa perkara maksiat lainnya; satu dengan lainnya saling mengundang, seperti:

Memandang Lawan Jenis yang Bukan Mahram

Saling memandang antara satu dengan yang lainnya sudah menjadi perkara yang lumrah bagi dua insan yang dimabuk cinta. Sementara memandang lawan jenis bisa membangkitkan syahwat apalagi bila sang wanita berpakaian ketat yang menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya. Oleh karena itu “bohong” bila seorang laki-laki tidak tergiur dengan penampilan wanita yang menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya, apa lagi sang wanita tergila-gila kepadanya dan tiap hari berada di sisinya. Sebenarnya sang laki-laki bejat tinggal menunggu waktu dan kesempatan saja untuk bisa melampiaskan nafsu setannya. Setelah itu terjadilah apa yang terjadi… naudzu billahi min dzalik.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menjaga matanya dari memandang perkara-perkara yang diharamkan untuk dilihat. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya (dari hal yang haram); yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya (dari yang haram)”. (QS. An-Nur: 30-31).

Jarir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhuma- berkata, “Aku bertanya kepada Rasulallahi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda, “Palingkan pandanganmu”. [HR. Muslim (2159), Abu Dawud (2148), At-Tirmidziy (2776)]

Memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang (bukan mahram), meskipun tanpa syahwat, maka ia adalah zina mata. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara qalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan) hal itu atau mendustakannya”. [HR. Al-Bukhoriy (5889) dari Ibnu Abbas, dan Muslim (2657) dari Abu Hurairah]

Saling Merayu, dan Menggoda dengan Suara Lembut

Lalu bagaimana lagi jika yang dilakukan bukan hanya sekedar memandang, tapi juga dibumbui dengan cumbu rayu, berbalut suara yang mengundang syahwat dan sejuta godaan dusta!! Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

“Maka janganlah kamu tunduk (bersuara lembut) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”.(QS. Al-Ahzab:32).

Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata menafsirkan ayat ini, “Maknanya hal ini, seorang wanita berbicara (di balik tirai dan penghalang, -pent) dengan orang lain dengan ucapan yang di dalamnya tak terdapat kemerduan suara, yakni seorang wanita tidak berbicara dengan orang lain sebagaimana ia berbicara dengan suaminya (dengan penuh kelembutan)”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim (3/636)]

Jadi, seorang lelaki atau wanita terlarang untuk saling menggoda, merayu, dan bercumbu dengan ucapan-ucapan yang membuat salah satu lawan jenis tergoda, dan terbuai sehingga pada gilirannya membuka jalan menuju zina, baik itu zina kecil (seperti memandang, saling memikirkan, dan lainnya), maupun zina besar !!

Menemui Wanita Tanpa Mahram, dan Tanpa Pembatas

Sehari bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sebulan, dan sebulan bagaikan setahun bila sepasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta tidak bertemu.Ketika mereka bertemu, pastilah berduaan.Sang pria berusaha sebisa mungkin menemui si wanita, tanpa ada mahram, dan tanpa pembatas berupa tirai yang melindungi mereka dari pandangan syahwat. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita”.Seorang lelaki dari kalangan Ashar berkata, “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami?” Maka Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Mereka adalah kematian (kebinasaan)”. [HR. Al-Bukhoriy (5232), Muslim (2172), dan At-Tirmidziy (1171)]

Berduaan antara Pria dan Wanita

Lebih para lagi, jika pria dan wanita yang berpacaran ini saling berduaan, karena setan sudah hampir berhasil menjerumuskan keduanya dalam zina.Makanya, kasus zinanya orang yang berpacaran, itu terjadi di saat mereka berduaan; saat mereka bebas mengungkap isi hatinya, dan syahwatnya yang bergejolak kepada lawan jenisnya.Sebab itu, kedua pasangan yang haram ini berusaha mencari tempat yang tersembunyi, dan jauh dari jangkauan manusia; ada yang pergi ke daerah wisata, tepi pantai; ada yang lebih elit lagi sewa hotel, villa, dan lainnya. Untuk apa? Agar bebas berduaan melampiaskan birahinya yang keji !!! Di lain sisi, sebagian wanita tak sadar jika ia akan dihinakan dengan perbuatan itu, karena hanya sekedar janji-janji muluk dan dusta. Sadarlah wahai kaum wanita, jika seorang lelaki yang mengungkapkan cintanya kepadamu, tanpa melalui pintu nikah, maka ketahuilah bahwa itu adalah “cinta palsu”, dan “janji dusta”

Seorang dilarang berduaan dengan lawan jenisnya yang bukan mahramnya, karena hal itu akan membuat setan lebih leluasa menggoda dan menjerumuskan seseorang dalam zina, dan pengantarnya. Rasulllah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Jangan sekali-sekali salah seorang di antara kalian (kaum pria) berduan dengan seorang wanita, karena setan adalah pihak ketiganya”.[HR. At-Tirmidziy (2165), dan Ahmad (114). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (6/215)]

Memegang dan Menyentuh Pacar

Pacaran tidaklah lepas dari bersentuhan, entah dengan cara berjabat tangan, berboncengan di atas kendaraan, atau berpegangan, berpelukan, berciuman dan lainnya. Ketahuilah bahwa memegang dan menyentuh wanita yang bukan mahram kita adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama kita. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Andaikan kepala seseorang di cerca dengan jarum besi, itu lebih baik (ringan) baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal baginya”. [HR. Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (227/2), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (486, & 487)]

Al-Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy-rahimahullah- berkata setelah menguatkan sanad hadits diatas dalam Ash-Shohihah (1/1/448), “Dalam hadits ini terdapat ancaman yang keras bagi orang yang menyentuh wanita yang tak halal baginya.Jadi, di dalamnya juga ada dalil yang menunjukkan haramnya berjabat tangan dengan para wanita (yang bukan mahram), karena berjabat tangan dicakup oleh kata “menyentuh”, tanpa syak.Perkara seperti ini telah menimpa kebanyakan kaum muslimin di zaman ini. (Namun sayang), di antara mereka ada yang berilmu andaikan ia ingkari dalam hatinya, maka masalahnya sedikit agak ringan. Cuman mereka ini berusaha menghalalkannya dengan berbagai jalan, dan takwil. Telah sampai suatu berita kepada kami bahwa ada seorang tokoh besar di Al-Azhar telah disaksikan oleh sebagian orang sedang berjabat tangan dengan para wanita !!Hanya kepada Allah tempat kita mengadu dari keterasingan Islam”.

Nasihat bagi Orang Tua

Suatu perkara yang membuat kita sedih, orang tua tidak peduli lagi dengan anak gadisnya ketika keluar rumah bersama laki-laki yang bukan mahramnya. Keluar dengan berpakaian serba ketat, kemudian dibonceng,.Tidak tahu kemana anak gadisnya dibawa pergi.Lalu terjadilah apa yang terjadi.Si gadis terkadang pulang larut malam, namun orang tua hanya membiarkan kemungkaran terjadi di dalam rumah tangga, dan keluarganya.Inilah Dayyuts yang diharamkan baginya jannah (surga). Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Ada tiga golongan yang sungguh Allah haramkan baginya surga: pecandu khomer, orang yang durhaka (kepada orang tuanya), dan dayyuts yang membiarkan perbuatan keji dalam keluarganya”.[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/69/no. 5372). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (3047)]

Jika kita melirik ke arah yang lain, ternyata ada juga wanita yang berbusana muslimah dan pria memakai gamis jatuh ke dalam jerat setan ini. Mereka sebut dengan istilah “pacaran islami”.Tentunya ini justru lebih berbahaya karena jalan menuju perzinaan yang telah dibungkus dengan label “islami”.Padahal sungguh agama Islam yang suci ini telah berlepas diri dari perbuatan ini.

Pacaran yang merupakan pos dan gerbang menuju zina ini, jika dianggap “islami” -padahal itu haram berdasarkan ayat yang lalu-, maka kami khawatirkan akan muncul generasi yang akan menghalalkan perkara-perkara haram lainnya, karena dipoles dan dihiasi dengan label “islami” sehingga mereka nantinya akan membuat istilah “musik islami”, “khomer islami”, “mencuri islami”, “riba islami”, “judi islami”, dan lain sebagainya. Padahal musik, khomer, mencuri, riba, dan judi adalah perkara-perkara haram, namun dihalalkan oleh mereka hanya karena permaiman kata yang licik.Na’udzu billah min dzalik !!

Akhirnya kami nashihatkan kepada kaum yang dilanda asmara agar segera bertaubat kepada Allah sebelum nyawa meregang. Hentikan pacaran yang akan menjatuhkan kalian dalam jurang kenistaan. Jagalah kehormatan kalian yang suci dengan tameng ketaqwaan kepada Allah -Ta’ala- .



http://devirafianti.blogspot.com/2011/12/pacaran-bikin-hidup-lebih-redup.html